Pelukan Hangat di Sore Hari



Sebuah tangan mengelus lembut puncak kepalaku yang terbalut dengan kerudung hitam. Ku nikmati sentuhannya setiap detik. Semilir angin sore semakin membuatku merasakan kenyamanan yang tiada tara. Ku tolehkan wajahku mengarah ke pemilik tangan tersebut, ia tersenyum manis. Mau tak mau ku juga sunggingkan senyuman yang tak kalah manisnya.

“Ibu tidak istirahat? udaranya dingin loh,” ujarku padanya. Namun, ia hanya menggeleng pelan serta terus mengusap lembut puncak kepalaku. Aku mengernyit, tadi siang ibu berkata jika tak enak badan, namun sekarang malah berada di luar rumah yang mana udara sedang tak hangat-hangatnya.

“Tapi Ibu kan sedang sakit,” lagi-lagi ibu hanya menggeleng, inginku debat lagi, tapi ya sudahlah mungkin ibu sedang ingin menikmati suasana kota sore ini. 

“Bagaimana kuliahmu?” 

Aku meliriknya sekilas. Ku hembuskan napas pelan, inilah yang ku tak sukai setiap kali aku kembali ke rumah. Selalu ditanyakan pertanyaan yang sama yang aku sendiri pun masih rancu menjawabnya. Ya, kupaksakan senyum menghias wajahku.

“Alhamdulillah baik,” jawabku pendek. Kemudian ibu kembali tersenyum padaku, aku sedikit tak mengerti apa sebenarnya makna dibalik senyumannya itu.

Tak begitu lama ibu kembali membuka suara, “Ibu hanya berpesan padamu, ingat tujuan awalmu. Jangan pernah goyah akannya, Ibu sama Ayah sangat percaya padamu. Jangan pernah nodai kepercayaan kami,” katanya pelan sembari tangan kanannya tetap mengelus kepalaku.

Seperti ada tikaman pisau tak kasat mata menembus ulu hatiku. Ku tatap dalam wajah ibuku yang sudah dipenuhi guratan-guratan yang semakin hari semakin terlihat. Kedua mata yang teduh dan tatapan sendu, serta rambut hitam legamnya dulu yang perlahan berubah warna. Ku amati dalam-dalam setiap pahatan Tuhan di depanku ini. Semakin lama semakin ku lihat aku semakin sadar bahwa apa yang telah ibu lakukan begitu besar untukku, iya hanya untukku.

Aku semakin tersadar apa yang sudah ku lakukan saat ini tak ada apa-apanya. Yang ada hanya keluhan-keluhan yang aku lontarkan setiap kali ku mendapatkan sebuah tugas. Bahkan aku tak pernah tahu bagaimana kedua orang tuaku pontang-panting mencari pundi-pundi rupiah untukku tetap berkuliah. 

Tak sadar setetes air mata mengalir dari sudut kelopak mataku. Aku pun langsung berhambur dalam pelukan hangat malaikat tanpa sayapku. Ku tumpahkan seluruh air mataku, elusan lembut yang awalnya ku rasakan di puncak kepalaku kini beralih ke punggungku.

“Maaf Bu, aku masih belum bisa menjadi seseorang yang dapat membanggakan Ayah dan Ibu,”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batu, Debu, dan Hujan

Dakwah Penuh Sinergi untuk Masyarakat Dolly

Lentera Sigra #1