Dakwah Penuh Sinergi untuk Masyarakat Dolly

TUGAS LAPORAN KULIAH LAPANGAN ILMU DAKWAH DI EKS LOKALISASI DOLLY 

Dok. istimewa


Siapa yang tak kenal Dolly? Mungkin mayoritas masyarakat Indonesia sudah mengetahuinya. Ya, Dolly merupakan tempat lokalisasi yang begitu terkenal yang terletak di ibukota Jawa Timur, Surabaya. Konon katanya, Dolly disebut-sebut sebagai lokalisasi pelacuran terbesar se-Asia Tenggara. Betapa tidak, sedikitnya 9.000 lebih pelacur berada jadi satu di kawasan tersebut. Kendati begitu, benar atau tidak, belum ada catatan pembanding resmi dengan kompleks lokalisasi di negeri lain, misalnya; kawasan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Namun, saat ini Dolly hanya akan menjadi legenda bagi masyarakat Indonesia, pasalnya tempat prostitusi yang ‘katanya’ terbesar se-Asia Tenggara ini resmi ditutup pada tahun 2014 lalu.

Dolly merupakan salah satu lokalisasi dari enam lokalisasi yang ada di Surabaya. Lokalisasi ini berlokasi di Jalan Kupang Gunung Timur I (Gang Dolly). Selain Dolly, ada lagi lima lokalisasi lain yakni di daerah Dupak Bangunsari, Tambak Asri, Klakah Rejo, Moro Seneng, dan Jarak.

Nama Dolly sendiri diambil dari nama seseorang. Ada beberapa versi mengenai asal usul nama Dolly tersebut. Yang pertama yakni Dolly Van de Mart seorang perempuan keturunan Belanda yang membuka sebuah wisma berisikan para perempuan cantik yang utamanya digunakan untuk melayani tentara Belanda kala itu. Selain Dolly Van de Mart, ada Dolly lain yakni Dolly Khavit. Seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Philipina yang lebih dikenal dengan tante Dolly. Ia mendirikan rumah bordil pertamanya di jalan Kupang Gunung Timur I yang kemudian hingga saat ini jalan tersebut lebih dikenal dengan ‘Gang Dolly’.

Bicara soal Dolly, dalam sejarah Dolly menyediakan gadis muda untuk menjadi pekerja seks komersial. Mereka bertugas melayani tentara Belanda yang ada pada saat itu. Kemudian, karena dinilai memiliki pelayanan yang memuaskan akhirnya Dolly pun semakin berkembang. Semenjak saat itu, selain tentara Belanda mereka juga melayani warga pribumi bahkan saudagar pun mulai mendatangi Surabaya untuk merasakan ‘pelayanan’ para PSK. Sehingga lokalisasi Dolly semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Dok. istimewa

Bisnis prostitusi ini pun semakin berkembang seiring dengan meningkatnya permintaan dan tersohornya Dolly sebagai sentra prostitusi. Dolly tidak hanya menyediakan perempuan-perempuan pekerja seks komersial, melainkan kafe dangdut, karaoke, permainan billiard, panti pijat plus dan aneka usaha lainnya yang identik dengan dunia malam dan prostitusi.

Berdasarkan dokumentasi Kelurahan Putat Jaya, tercatat ada 284 wisma yang beroperasi hingga penutupan Dolly di tahun 2014 lalu. Dari 284 wisma tersebut, terdapat 1449 PSK yang mengais rejeki dengan jalan masuk ke dalam bisnis prostitusi di Dolly. Para pekerja seks komersial ini tidak bekerja sendiri, mereka dikelola oleh seorang mucikari. Merekalah yang mengatur jalannya bisnis prostitusi ini. Sampai dengan tahun 2014, tercatat ada 208 mucikari yang menjalankan bisnis prostitusi di Dolly. Mereka semua tersebar ke dalam 17 RT yang ada di kawasan Dolly-Jarak.

Namun, melihat kenyataan tentang lokalisasi Dolly yang semakin berkembang hal itu tentu saja menjadi kekhawatiran, sebab apabila keberadaan Dolly tetap dibiarkan maka itu bisa mengancam moral bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, dakwah di lokalisasi mulai digalakan guna mengentaskan permasalahan tersebut serta mengajak masyarakat untuk mengubah mindset mereka.

Pada Juni 2014 Pemerintah Kota dan sejumlah petinggi masyarakat mengupayakan penutupan secara permanen pada kawasan Lokalisasi Dolly. Hal tersebut tentu saja menimbulkan kontroversi serta dampak besar apalagi di bidang ekonomi bagi Pekerja Seks Komersial (PSK), mucikari, maupun masyarakat sekitar karena mereka sangat menggantungkan hidupnya dari Lokalisasi Dolly.

Dalam penutupan lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara ini ada beberapa tokoh dibaliknya yang memiliki peran besar dalam dakwah di lokalisasi Dolly. Pertama ada Dr. H. A. Sunarto AS, MEI selaku Ketua Umum Ikatan Da’i Eks Area Lokalisasi (IDEAL) ia pun juga dijuluki sebagai Doktor prostitusi, yang kedua ada KH. Khoiron Syuaib atau disebut juga Kiai prostitusi, kemudian yang ketiga ada H. Sunarto Sholahudin sebagai owner PT. Berkah Aneka Laut atau bendahara masjid Nurul Fattah, serta yang terakhir H. Gatot Subiantoro yang merupakan mantan preman di lokalisasi Dolly sekaligus Humas IDEAL.

Penutupan lokalisasi ini bukanlah suatu hal yang mudah dan tidak langsung ditutup begitu saja, melainkan membutuhkan proses dan waktu bertahun-tahun hingga akhirnya lokalisasi ini berhasil ditutup secara permanen. Seperti yang diutarakan oleh Bapak Sunarto atau Bapak Doktor Prostitusi, penutupan ini membutuhkan waktu kurang lebih 32 tahun. Pada awalnya Bapak Sunarto melakukan dakwah secara individual mulai tahun 80-an hingga 2002. Ia biasa melakukan ceramahnya di Balai RT, gedung bioskop hingga akhirnya ada sekitar 200-300 orang yang mengikuti ceramahnya. Namun, cara ini dianggap tidak dapat berjalan secara optimal dan maksimal.

Akhirnya pada tahun 2002 Bapak Sunarto memutuskan untuk bekerja sama dalam melakukan dakwah atau biasa disebut dengan dakwah kelembagaan yaitu dengan Forum Komunikasi Elemen Masyarakat (Forkemas) Surabaya. Dakwah pun tidak lagi dilakukan di balai RT maupun gedung bioskop, melainkan para wanita tanpa susila (WTS) diasramakan di Trawas, Mojokerto selama 45 hari. Sejumlah 120 WTS dari enam lokalisasi yang ada di Surabaya, mereka dikirim ke Trawas untuk dibina dan diberi materi tentang keagamaan. Dakwah tersebut bertujuan untuk mengubah mindset mereka yang mana seorang mucikari atau germo pasti pikirannya tidak jauh dari PSK dan mereka sudah menganggap bahwa PSK itu adalah barang dagangan mereka.

Dakwah yang dilakukan pun menggunakan tiga metode dakwah yakni Integratif, Persuasif, dan Solutif. Metode integratif maksudnya adalah dakwah dilakukan secara menyeluruh baik fisik maupun rohaninya. Jadi para WTS dipandu untuk melakukan zikir, sholat tahajud sehingga lama-kelamaan hati mereka pun akan tersentuh. Namun, tidak semua WTS dapat langsung menerima dakwah tersebut mungkin dari 120 WTS sekitar 20-an orang yang memilih insyaf. Metode persuasif yakni melakukan pendekatan kepada mitra dakwah yaitu WTS, mucikari, dan lainnya. Kemudian yang terakhir adalah Metode solutif yaitu memberikan jalan keluar kepada pelacur maupun WTS. Mereka diberikan bekal keterampilan setelah itu diberi modal untuk mengembangkan usaha.

Dok. istimewa, salah satu wisma lokalisasi 'Barbara' sebelum penutupan

Dok. istimewa, wisma barbara yang berubah menjadi pabrik pembuatan sepatu dan sandal
        
          Dakwah bersama Forkemmas ini dilakukan dari tahun 2002 hingga 2010. Kemudian beralih kepada Ikatan Da’i Indonesia Eks Area Lokalisasi (IDEAL) yang diresmikan pada tahun 2010 hingga 2014 sampai pada akhirnya lokalisasi Dolly dapat ditutup secara permanen.

Proses penutupan lokalisasi Dolly oleh IDEAL menempuh berbagai tahapan. Pertama, yakni mengkaji peraturan daerah yang ada di lokalisasi dan menganalisa ulang sejauh mana kuasa perda tersebut dan kemungkinannya untuk dilaksanakan. Kedua, melakukan pertemuan serta menjalin kerjasama dengan pemerintah setempat, tokoh agama dan tokoh masyarakat, aparat penegak hukum serta organisasi masyarakat disana. Setelahnya IDEAL berharap mendapat dukungan dari pihak-pihak yang sudah tersebutkan. Ketiga, dalam tahap ini IDEAL melakukan inventaris dan berbagai program sudah dikerjakan kemudian dilakukan evaluasi untuk perbaikan ke depannya. Setelah semua proses dan berjalan lancar lalu tahap terakhir atau tahap keempat yakni melakukan deklarasi mengenai penutupan yang juga diketahui oleh masyarakat setempat.

Gerakan yang dilakukan IDEAL ini tidak serta merta langsung berdakwah dan dilakukan penutupan, melainkan ada beberapa hal yang menyokong terjadinya hal ini. Pertama, konsep penutupan harus holistik dan sinergis. Holistik disini berarti dilakukan secara menyeluruh dan melihat seluruh aspek serta dampak yang timbul setelah penutupan dilakukan. Kemudian juga harus sinergis, yang berarti IDIAL melakukan penutupan ini bukan secara ujug-ujug, melainkan juga ada kerja sama dengan pihak lain seperti pemerintah setempat yang memiliki kuasa untuk melakukan penutupan tersebut.

Kedua, yang menjadi kekuatan IDEAL adalah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk melaksanakan program-program yang sudah dirancang, yaitu harus holistik. Maka dari itu, IDIAL mencoba melaksanakan program tersebut dengan melakukan kerjasama terhadap lembaga yang terkait. Ketiga, kesungguhan dan konsistensi yang dimiliki oleh para da’i dalam berdakwah. Kesungguhan dan konsistensi tersebut menjadi kekuatan yang dimiliki oleh IDEAL. Sebagai contoh kongkretnya yakni Bapak Gatot Subiantoro yang awalnya seorang preman di Dolly yang gemar mabuk-mabukan, namun karena usaha yang dilakukan oleh para da’i yakni dengan mengajak secara perlahan-lahan membuat Bapak Gatot luluh hatinya dan bahkan sekarang beliau telah menjadi Humas IDEAL dan hingga sekarang beliau juga turut berperan aktif dalam penutupan lokalisasi yang ada di Jawa Timur.

Keempat, kekuatan yang dimiliki da’i IDEAL adalah setiap da’i nya memiliki ciri khas tersendiri, seperti contoh Bapak Ngadimin Wahab atau yang akrab disapa Ustadz Petruk yang juga takmir masjid At-Taubah. Beliau memiliki kelebihan melalui pendekatan dakwah supranatural yakni dengan pengobatan. Sebab pada masa itu banyak sekali para PSK yang kesurupan, stress, sepi pelanggan bahkan ada juga yang terkena santet. Maka Ustadz Petruk melakukan dakwahnya dengan cara membantu mengobati mereka sehingga tak sedikit pula para PSK memilih bertaubat.

Keberhasilan dakwah Pak Petruk ini membuat beliau akhirnya bisa membantu dakwah da’i-da’i IDIAL dan Dinas Sosial yang datang ke Dolly. Beliaulah yang membagi para da’i untuk berdakwah ke wisma mana saja. Saat itu ada 75 da’i yang ditugaskan untuk mendakwahi 1022 psk. Beliau pula yang mengkoordinir dan mengawal para da’i memasuki wisma. Sedangkan untuk teknis pelaksanaannya, Pak Petruk juga memperbolehkan mereka bergerak dengan kreativitas mereka masing-masing.

Kelima, yang menjadi kekuatan lain yang dimiliki oleh IDEAL adalah pendekatan persuasif. Seorang penda’i jika ingin berdakwah maka ia harus mengetahui keadaan psikologis dari sang mitra dakwah. Apalagi berdakwah di lingkungan lokalisasi yang tidak bisa secara langsung diberikan ceramah terbuka. Namun, para penda’i juga harus bisa melakukan pendekatan-pendekatan yang persuasif atau pendekatan yang bersifat mengajak. Sehingga mereka pun perlahan-lahan akan mulai bertaubat sedikit demi sedikit.

Menurut Ketua Umum IDEAL, Bapak Sunarto, Sebelum berdakwah, IDEAL telah melakukan pendekatan-pendekatan untuk dapat berdakwah di lokalisasi Dolly pada saat itu. Pada awalnya IDEAL membangun jaringan dan kerjasama yang diistilahkan dengan dakwah networking, yang mana pihak IDEAL melakukan komunikasi terlebih dahulu ketika sudah mendapat kepercayaan maka kerjasama pun dapat dilakukan

Pendekatan dakwah yang dilakukan IDEAL dikenal dengan istilah 3G (Gatuk, Guluk, dan Guyup). Pertama, pendekatan dakwah gatuk (terkait) yang merupakan dakwah dengan cara menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap mucikari dan wanita harapan. Kedua, pendekatan guluk (memikul) yakni dakwah dengan bersinerginya antara pendakwah di lapangan, organisasi dakwah serta pemerintah. Ketiga, guyup (aman dan tentram) yang berarti ada perasaan nyaman dan tentram pada diri objek dakwah (mad’u) dengan melakukan pendekatan persuasif sehingga mereka tidak merasa terganggu dengan adanya pendakwah yang berada di tengah lingkungan mereka.

Dalam konteks pasca penutupan jika dibagi, terdapat tiga sasaran dakwah. Pertama adalah mucikari, orang yang selama ini mengelola bisnis prostitusi di wisma. Kedua, pekerja seks komersial. Ketiga, masyarakat terdampak. Nah masyarakat terdampak ini adalah orang – orang yang tinggal di sekitar lokalisasi. Sepeti misalnya, tukang parkir, pedagang, tukang becak, supir taksi, buruh cuci, penjual makanan dan minuman, pelayan di wisma, hansip hingga ulo perak (Calo yang berjaga di pelabuhan perak untuk kemudian mengarahkan turis atau wisatawan yang datang ke Dolly) atau calo prostitusi dan papasang-mamasang (orang yang menjadi orang kepercayaan mucikari). Merekalah yang dulunya menggantungkan hidup pada bisnis prostitusi.

Sedangkan menurut Bapak Gatot Subiantoro, sasaran dakwah kali ini adalah eks PSK dan mucikari yang masih tinggal di Surabaya dan masyarakat terdampak yang terbagi dalam ring 1, ring 2, dan ring 3. Sedangkan yang dimaksud ring 1 adalah mereka yang tinggal atau memiliki usaha satu gang di belakang gang Dolly. Ring 2 adalah mereka yang tinggal atau memiliki usaha dua gang di sekitar gang Dolly. Ring 2 ini kebanyakan diisi oleh penjual, seperti penjual makanan, minuman, sandal, kaos dan lain sebagainya. Sedangkan ring 3 adalah mereka yang tinggal atau memiliki usaha di tiga gang di sekitar Dolly yang dahulunya adalah kawasan parkiran.

Walaupun sudah ada program pemulangan eks pekerja seks komersial dan mucikari, namun tidak semua dari mereka pulang ke kampung halaman masing- masing. Sebagian kecil ada yang tetap tinggal di Surabaya karena sudah teranjur menjalankan usaha lain di sini. Walau begitu mereka sudah berhenti dari praktik kerja prostitusi. Mereka yang masih tetap tinggal inilah yang kemudian ikut dilibatkan dalam program pemberdayaan oleh IDEAL.

Dalam rangka mengantisipasi tindak prostitusi terselubung, IDEAL menjalankan program pengawasan. Pengawasan itu yang melakukan adalah masyarakat. Masyarakat itu melibatkan toga (tokoh agama) – tomas (tokoh masyarakat). Selain itu juga melibatkan korlap (koordinator lapangan) dan TKSK (tenaga kesejahteraan sosial kecamatan) yang tersebar di semua kecamatan di Jawa Timur. Pihak-pihak tadi sudah memiliki tugasnya masing-masing. Sebagai contoh korlap – korlap di setiap eks lokalisasi yang bertugas memantau kondisi di eks lokalisasi. Jika nantinya ditemukan tindak prostitusi terselubung, korlap-korlap ini harus segera melaporkan temuan kepada ketua.

Selanjutnya ketua akan menghubungi Polda sehingga bisa langsung dilakukan penindakan di lapangan. Korlap-korlap ini juga tersebar di seluruh Jawa Timur sehingga memudahkan dalam mengontrol kondisi di lapangan. Tidak hanya itu, IDIAL juga bekerjasama dengan Polda Pangdam (Panglima Kodam V Brawijaya). Pengawasan dari pihak aparat juga dilakukan dalam rangka penindakan jika ditemukan pelanggaran di lapangan. Aparat itu sendiri terbagi dalam dua bagian. Pertama adalah Satpol PP. Satpol PP bertugas melakukan penindakan jika ditemukan pelanggaran Perda. Sebaliknya jika pelanggarannya adalah pada undang – undang maka polisi yang akan menindak.

Program pengawasan ini dilakukan setiap hari. Artinya para pengawas yang ditugaskan senantiasa memantau kondisi di lapangan dan segera melaporkan ika diketahui temuan tindak prostitusi terselubung. Sebab pihak-pihak yang ditunjuk sebagai pengawas pun senantiasa stand by di lapangan. Hal ini juga diketahui oleh para eks pekerja seks komersial dan mucikari. Sebab saat mereka diserahkan kembali ke kampung halaman masing-masing, pihak IDEAL telah melakukan proses komunikasi kepada kepala desa yang menerima mereka dan menjelaskan amanah pengawasan di lapangan. Harapannya dengan begitu mereka tidak berani melakukan praktik prostitusi terselubung. IDEAL juga menggunakan pendekatan melalui kepala desa, sebab tidak semua keluarga mereka mau menerima mereka kembali. Dari sanalah kepala desa melakukan pendekatan agar mereka bisa diterima kembali dengan baik

***

Pada hari Sabtu, 13 April 2019 mahasiswa semester 2 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mengadakan kuliah lapangan ke kawasan lokalisasi Dolly untuk memenuhi tugas laporan mata kuliah Ilmu Dakwah. Kuliah lapangan ini didampingi oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz selaku dosen pengampu serta dua asisten dosen yakni Ibu Ati’ Nursyafa’ah dan Ibu Baiti. Kuliah ini dimulai pada pukul 08.00 WIB di Masjid At-Taubah yang terletak di kawasan tersebut. 

Dok. istimewa, mahasiswa KPI yang tengah mengikuti kuliah lapangan

Pada kuliah lapangan kali ini pembicaranya langsung dari tokoh berpengaruh dalam dakwah di Dolly yakni Dr. H. A. Sunarto AS, MEI, KH. Khoiron Syuaib, H. Sunarto Sholahudin, H. Gatot Subiantoro, dan Ngadimin Wahab (Ustadz Petruk).

Prof. Ali Aziz foto bersama dengan seluruh pembicara

Kuliah dimulai dengan sambutan dari takmir masjid yakni Bapak Ngadimin Wahab atau yang sering dikenal dengan Ustadz Petruk. Ia menyampaikan tentang awal mula berdirinya masjid At-Taubah masjid bersejarah di Dolly. Pada 1987 masjid itu merupakan musholla bernama Al-Huda dan pada tanggal 17 Pebruari 1989 khutbah pertama dilakukan di masjid At-Taubah.
 
Dok. istimewa, Ustadz Petruk menyampaikan sambutan saat kuliah lapangan

Setelah sambutan dari Ustadz Petruk selanjutnya adalah sambutan dari dosen pengampu yakni Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. setelah memberikan sambutan beliau memberikan cinderamata kepada pembicara berupa buku.

Prof. Ali Aziz memberikan buku kepada Ustadz Petruk selaku takmir masjid At-Taubah

Selanjutnya disambung oleh pembicara yakni H. Sunarto Sholahudin yang berbicara mengenai pengalamannya hingga bisa sukses seperti sekarang. Pada saat beliau menerangkan tentang pengalaman hidupnya dipenuhi dengan tangis haru sehingga membuat para mahasiswa pun turut merasakan atmosfer keharuan. 

H. Sunarto Sholahuudin saat memberikan materi kuliah lapangan

Selain itu, ada hal menarik ketika H. Sunarto memberikan materinya. Saat para mahasiswa melontarkan pertanyaan tak segan-segan beliau memberikan uang 100-300 ribu sebagai bentuk apresiasi untuk para penanya sehingga membuat para mahasiswa semakin antusias.

Terlihat seorang penanya yang diberi uang

Pembicara berikutnya yakni Dr. H. A. Sunarto AS, MEI, beliau menjelaskan mengenai bagaimana usaha beliau berdakwah di kawasan Dolly. Perjalanan dakwah beliau yang dimulai dari berdakwah secara individual hingga dakwah kelembagaan. Dakwah yang dilakukan hingga penutupan Dolly kurang lebih selama 32 tahun lamanya. 

Dr. H. A. Sunarto saat menerima cinderamata

Kemudian pembicara selanjutnya yakni KH. Khoiron Syuaib yang juga menerangkan ada empat unsur penting dalam area lokalisasi yaitu PSK, mucikari, tokoh berpengaruh seperti RT, RW (internal) dan preman (eksternal), dan masyarakat yang tinggal di area lokalisasi. Pada saat menjelaskan materinya ada kalimat menggelitik yang dilontarkan oleh beliau, singkatan dari germo itu: Seneng mangan seger, tapi nyambut gawe emoh (Suka memakan yang segar, tapi bekerja tak mau).

KH. Khoirun Syuaib saat menerima cinderamata
          
              Pembicara yang terakhir yakni H. Gatot Subiantoro yang menjelaskan bagaimana perjalanan hijrahnya dari preman yang gemar mabuk-mabukan menjadi seseorang yang turut berdakwah di kawasan Dolly bahkan dapat menjadi Humas IDEAL. Ada sebuah kata-kata yang diutarakan oleh beliau untuk mengingatkan para mahasiswa yakni “Kekayaan tidak ada batasnya, kemiskinan tidak ada batasnya, tapi umur ada batasnya.” Dalam kata-kata tersebut menyiratkan bahwa kita harus memanfaatkan usia yang kita miliki dengan melakukan hal yang positif dan bermanfaat untuk banyak orang.

H. Gatot Subiantoro saat memberi materi kuliah lapangan

Setelah mengikuti kuliah lapangan ini penulis mengetahui sungguh luar biasa perjalanan beliau-beliau ini dalam mendakwahkan Islam di bumi Dolly yang merupakan tempat lokalisasi yang seolah jauh dan tak tersentuh oleh dakwah Islam. Namun, dengan kegigihan dan kerja keras mereka wajah Dolly tak lagi dicap sebagai tempat lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara.

Dok. istimewa, banner yang dipasang di depan masjid At-Taubah

Pesan kesan penulis saat mengikuti kuliah lapangan di Dolly. Pertama, yang pasti saya senang karena ini merupakan pengalaman yang pertama bagi saya pergi ke Dolly setelah lokalisasi itu resmi ditutup. Menurut saya kawasan ini layaknya perkampungan biasa seperti di kawasan lain di Surabaya setelah penutupan. Kedua, setiap pemateri menjelaskan dengan jelas dan lugas bagaimana perjalanan dakwah mereka di Dolly sehingga hal tersebut membuat saya semakin tertarik dengan kawasan ini. Ketiga, ketika sudah mengetahui bagaimana perjalanan dakwah di Dolly yang terbilang tidak mudah dan begitu lama pastilah dibutuhkan kesabaran yang tak terkira, penulis salut akan usaha para da’i menegakkan nilai keislaman di Dolly yang mungkin banyak mendapat pertentangan. Namun, lambat laun usaha mereka terbayarkan dengan penutupan Dolly tersebut.

Keempat, dalam kuliah lapangan ini saya juga mendapatkan pelajaran baru tentang hidup karena kesuksesan itu ada karena usaha yang tak terkira bukan sebatas berpangku tangan menunggu hujan uang datang. Kesuksesan itu harus kita jemput seperti perjalanan hidup H. Sunarto Sholahudin atas kesuksesannya. Beliau mendapatkan kesuksesan itu bukan hal yang mudah bahkan dengan usaha dan tangis. Itulah yang mengetuk hati penulis bahwa mencapai kesuksesan harus dibarengi dengan usaha yang maksimal.

Kelima, saya juga salut dengan usaha yang dilakukan pemerintah Surabaya pasca penutupan Dolly. Pasca penutupan tersebut tidak serta merta para WTS, mucikari itu diberhentikan, melainkan mereka diberi bekal keterampilan untuk memulai usaha. Bahkan salah satu wisma disana dijadikan sentra pembuatan sepatu dan sandal dan puing-puing bekas lokalisasi sudah tak lagi terlihat ketika penulis datang kesana.

Nama : Fauziyah Ikrimah 
NIM : B91218107
Kelas : A2/KPI
***

Semoga  informasi yang penulis paparkan dapat bermanfaat bagi pembaca semua. Terima kasih telah mengunjungi blog saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batu, Debu, dan Hujan

Lentera Sigra #1