Dakwah Penuh Sinergi untuk Masyarakat Dolly
TUGAS LAPORAN KULIAH LAPANGAN ILMU DAKWAH DI EKS LOKALISASI DOLLY
![]() |
| Dok. istimewa |
Siapa yang tak kenal Dolly? Mungkin mayoritas masyarakat Indonesia
sudah mengetahuinya. Ya, Dolly merupakan tempat lokalisasi yang begitu terkenal
yang terletak di ibukota Jawa Timur, Surabaya. Konon katanya, Dolly
disebut-sebut sebagai lokalisasi pelacuran terbesar se-Asia Tenggara. Betapa
tidak, sedikitnya 9.000 lebih pelacur berada jadi satu di kawasan tersebut.
Kendati begitu, benar atau tidak, belum ada catatan pembanding resmi dengan
kompleks lokalisasi di negeri lain, misalnya; kawasan Phat Pong di Bangkok,
Thailand dan Geylang di Singapura. Namun, saat ini Dolly hanya akan menjadi
legenda bagi masyarakat Indonesia, pasalnya tempat prostitusi yang ‘katanya’
terbesar se-Asia Tenggara ini resmi ditutup pada tahun 2014 lalu.
Dolly merupakan salah satu lokalisasi dari enam lokalisasi yang ada
di Surabaya. Lokalisasi ini berlokasi di Jalan Kupang Gunung Timur I (Gang
Dolly). Selain Dolly, ada lagi lima lokalisasi lain yakni di daerah Dupak
Bangunsari, Tambak Asri, Klakah Rejo, Moro Seneng, dan Jarak.
Nama Dolly sendiri diambil dari nama seseorang. Ada beberapa versi
mengenai asal usul nama Dolly tersebut. Yang pertama yakni Dolly Van de Mart
seorang perempuan keturunan Belanda yang membuka sebuah wisma berisikan para
perempuan cantik yang utamanya digunakan untuk melayani tentara Belanda kala
itu. Selain Dolly Van de Mart, ada Dolly lain yakni Dolly Khavit. Seorang
mantan pelacur berdarah Jawa-Philipina yang lebih dikenal dengan tante Dolly.
Ia mendirikan rumah bordil pertamanya di jalan Kupang Gunung Timur I yang kemudian
hingga saat ini jalan tersebut lebih dikenal dengan ‘Gang Dolly’.
Bicara soal Dolly, dalam sejarah Dolly menyediakan gadis muda untuk
menjadi pekerja seks komersial. Mereka bertugas melayani tentara Belanda yang
ada pada saat itu. Kemudian, karena dinilai memiliki pelayanan yang memuaskan
akhirnya Dolly pun semakin berkembang. Semenjak saat itu, selain tentara
Belanda mereka juga melayani warga pribumi bahkan saudagar pun mulai mendatangi
Surabaya untuk merasakan ‘pelayanan’ para PSK. Sehingga lokalisasi Dolly
semakin dikenal oleh masyarakat luas.
![]() |
| Dok. istimewa |
Bisnis prostitusi ini pun semakin berkembang seiring dengan meningkatnya permintaan dan tersohornya Dolly sebagai sentra prostitusi. Dolly tidak hanya menyediakan perempuan-perempuan pekerja seks komersial, melainkan kafe dangdut, karaoke, permainan billiard, panti pijat plus dan aneka usaha lainnya yang identik dengan dunia malam dan prostitusi.
Berdasarkan dokumentasi Kelurahan Putat Jaya, tercatat ada 284
wisma yang beroperasi hingga penutupan Dolly di tahun 2014 lalu. Dari 284 wisma
tersebut, terdapat 1449 PSK yang mengais rejeki dengan jalan masuk ke dalam
bisnis prostitusi di Dolly. Para pekerja seks komersial ini tidak bekerja
sendiri, mereka dikelola oleh seorang mucikari. Merekalah yang mengatur
jalannya bisnis prostitusi ini. Sampai dengan tahun 2014, tercatat ada 208
mucikari yang menjalankan bisnis prostitusi di Dolly. Mereka semua tersebar ke
dalam 17 RT yang ada di kawasan Dolly-Jarak.
Namun, melihat kenyataan tentang lokalisasi Dolly yang semakin
berkembang hal itu tentu saja menjadi kekhawatiran, sebab apabila keberadaan
Dolly tetap dibiarkan maka itu bisa mengancam moral bangsa Indonesia. Oleh
sebab itu, dakwah di lokalisasi mulai digalakan guna mengentaskan permasalahan
tersebut serta mengajak masyarakat untuk mengubah mindset mereka.
Pada Juni 2014 Pemerintah Kota dan sejumlah petinggi masyarakat
mengupayakan penutupan secara permanen pada kawasan Lokalisasi Dolly. Hal
tersebut tentu saja menimbulkan kontroversi serta dampak besar apalagi di
bidang ekonomi bagi Pekerja Seks Komersial (PSK), mucikari, maupun masyarakat
sekitar karena mereka sangat menggantungkan hidupnya dari Lokalisasi Dolly.
Dalam penutupan lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara ini ada
beberapa tokoh dibaliknya yang memiliki peran besar dalam dakwah di lokalisasi
Dolly. Pertama ada Dr. H. A. Sunarto AS, MEI selaku Ketua Umum Ikatan Da’i Eks Area
Lokalisasi (IDEAL) ia pun juga dijuluki sebagai Doktor prostitusi, yang kedua
ada KH. Khoiron Syuaib atau disebut juga Kiai prostitusi, kemudian yang ketiga
ada H. Sunarto Sholahudin sebagai owner PT. Berkah Aneka Laut atau bendahara
masjid Nurul Fattah, serta yang terakhir H. Gatot Subiantoro yang merupakan
mantan preman di lokalisasi Dolly sekaligus Humas IDEAL.
Penutupan lokalisasi ini bukanlah suatu hal yang mudah dan tidak
langsung ditutup begitu saja, melainkan membutuhkan proses dan waktu bertahun-tahun
hingga akhirnya lokalisasi ini berhasil ditutup secara permanen. Seperti yang
diutarakan oleh Bapak Sunarto atau Bapak Doktor Prostitusi, penutupan ini
membutuhkan waktu kurang lebih 32 tahun. Pada awalnya Bapak Sunarto melakukan
dakwah secara individual mulai tahun 80-an hingga 2002. Ia biasa melakukan
ceramahnya di Balai RT, gedung bioskop hingga akhirnya ada sekitar 200-300
orang yang mengikuti ceramahnya. Namun, cara ini dianggap tidak dapat berjalan secara
optimal dan maksimal.
Akhirnya pada tahun 2002 Bapak Sunarto memutuskan untuk bekerja
sama dalam melakukan dakwah atau biasa disebut dengan dakwah kelembagaan yaitu
dengan Forum Komunikasi Elemen Masyarakat (Forkemas) Surabaya. Dakwah pun tidak
lagi dilakukan di balai RT maupun gedung bioskop, melainkan para wanita tanpa
susila (WTS) diasramakan di Trawas, Mojokerto selama 45 hari. Sejumlah 120 WTS dari
enam lokalisasi yang ada di Surabaya, mereka dikirim ke Trawas untuk dibina dan
diberi materi tentang keagamaan. Dakwah tersebut bertujuan untuk mengubah mindset
mereka yang mana seorang mucikari atau germo pasti pikirannya tidak jauh dari PSK
dan mereka sudah menganggap bahwa PSK itu adalah barang dagangan mereka.
Dakwah yang dilakukan pun menggunakan tiga metode dakwah yakni
Integratif, Persuasif, dan Solutif. Metode integratif maksudnya adalah
dakwah dilakukan secara menyeluruh baik fisik maupun rohaninya. Jadi para WTS
dipandu untuk melakukan zikir, sholat tahajud sehingga lama-kelamaan hati
mereka pun akan tersentuh. Namun, tidak semua WTS dapat langsung menerima
dakwah tersebut mungkin dari 120 WTS sekitar 20-an orang yang memilih insyaf. Metode
persuasif yakni melakukan pendekatan kepada mitra dakwah yaitu WTS, mucikari,
dan lainnya. Kemudian yang terakhir adalah Metode solutif yaitu
memberikan jalan keluar kepada pelacur maupun WTS. Mereka diberikan bekal
keterampilan setelah itu diberi modal untuk mengembangkan usaha.
![]() | |
| Dok. istimewa, salah satu wisma lokalisasi 'Barbara' sebelum penutupan |
![]() |
| Dok. istimewa, wisma barbara yang berubah menjadi pabrik pembuatan sepatu dan sandal |
Dakwah bersama Forkemmas ini dilakukan dari tahun 2002 hingga 2010. Kemudian beralih kepada Ikatan Da’i Indonesia Eks Area Lokalisasi (IDEAL) yang diresmikan pada tahun 2010 hingga 2014 sampai pada akhirnya lokalisasi Dolly dapat ditutup secara permanen.
Proses penutupan lokalisasi Dolly oleh IDEAL menempuh berbagai
tahapan. Pertama, yakni mengkaji peraturan daerah yang ada di lokalisasi
dan menganalisa ulang sejauh mana kuasa perda tersebut dan kemungkinannya untuk
dilaksanakan. Kedua, melakukan pertemuan serta menjalin kerjasama dengan
pemerintah setempat, tokoh agama dan tokoh masyarakat, aparat penegak hukum
serta organisasi masyarakat disana. Setelahnya IDEAL berharap mendapat dukungan
dari pihak-pihak yang sudah tersebutkan. Ketiga, dalam tahap ini IDEAL
melakukan inventaris dan berbagai program sudah dikerjakan kemudian dilakukan
evaluasi untuk perbaikan ke depannya. Setelah semua proses dan berjalan lancar
lalu tahap terakhir atau tahap keempat yakni melakukan deklarasi mengenai penutupan
yang juga diketahui oleh masyarakat setempat.
Gerakan yang dilakukan IDEAL ini tidak serta merta langsung berdakwah
dan dilakukan penutupan, melainkan ada beberapa hal yang menyokong terjadinya hal
ini. Pertama, konsep penutupan harus holistik dan sinergis. Holistik
disini berarti dilakukan secara menyeluruh dan melihat seluruh aspek serta
dampak yang timbul setelah penutupan dilakukan. Kemudian juga harus sinergis,
yang berarti IDIAL melakukan penutupan ini bukan secara ujug-ujug,
melainkan juga ada kerja sama dengan pihak lain seperti pemerintah setempat yang
memiliki kuasa untuk melakukan penutupan tersebut.
Kedua, yang menjadi
kekuatan IDEAL adalah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk
melaksanakan program-program yang sudah dirancang, yaitu harus holistik. Maka
dari itu, IDIAL mencoba melaksanakan program tersebut dengan melakukan
kerjasama terhadap lembaga yang terkait. Ketiga, kesungguhan dan
konsistensi yang dimiliki oleh para da’i dalam berdakwah. Kesungguhan dan
konsistensi tersebut menjadi kekuatan yang dimiliki oleh IDEAL. Sebagai contoh
kongkretnya yakni Bapak Gatot Subiantoro yang awalnya seorang preman di Dolly
yang gemar mabuk-mabukan, namun karena usaha yang dilakukan oleh para da’i yakni
dengan mengajak secara perlahan-lahan membuat Bapak Gatot luluh hatinya dan
bahkan sekarang beliau telah menjadi Humas IDEAL dan hingga sekarang beliau
juga turut berperan aktif dalam penutupan lokalisasi yang ada di Jawa Timur.
Keempat, kekuatan yang
dimiliki da’i IDEAL adalah setiap da’i nya memiliki ciri khas tersendiri,
seperti contoh Bapak Ngadimin Wahab atau yang akrab disapa Ustadz Petruk yang
juga takmir masjid At-Taubah. Beliau memiliki kelebihan melalui pendekatan
dakwah supranatural yakni dengan pengobatan. Sebab pada masa itu banyak sekali
para PSK yang kesurupan, stress, sepi pelanggan bahkan ada juga yang terkena
santet. Maka Ustadz Petruk melakukan dakwahnya dengan cara membantu mengobati
mereka sehingga tak sedikit pula para PSK memilih bertaubat.
Keberhasilan dakwah Pak Petruk ini membuat beliau akhirnya bisa
membantu dakwah da’i-da’i IDIAL dan Dinas Sosial yang datang ke Dolly.
Beliaulah yang membagi para da’i untuk berdakwah ke wisma mana saja. Saat itu
ada 75 da’i yang ditugaskan untuk mendakwahi 1022 psk. Beliau pula yang
mengkoordinir dan mengawal para da’i memasuki wisma. Sedangkan untuk teknis
pelaksanaannya, Pak Petruk juga memperbolehkan mereka bergerak dengan
kreativitas mereka masing-masing.
Kelima, yang menjadi
kekuatan lain yang dimiliki oleh IDEAL adalah pendekatan persuasif. Seorang
penda’i jika ingin berdakwah maka ia harus mengetahui keadaan psikologis dari
sang mitra dakwah. Apalagi berdakwah di lingkungan lokalisasi yang tidak bisa
secara langsung diberikan ceramah terbuka. Namun, para penda’i juga harus bisa
melakukan pendekatan-pendekatan yang persuasif atau pendekatan yang bersifat
mengajak. Sehingga mereka pun perlahan-lahan akan mulai bertaubat sedikit demi
sedikit.
Menurut Ketua Umum IDEAL, Bapak Sunarto, Sebelum berdakwah, IDEAL
telah melakukan pendekatan-pendekatan untuk dapat berdakwah di lokalisasi Dolly
pada saat itu. Pada awalnya IDEAL membangun jaringan dan kerjasama yang
diistilahkan dengan dakwah networking, yang mana pihak IDEAL melakukan
komunikasi terlebih dahulu ketika sudah mendapat kepercayaan maka kerjasama pun
dapat dilakukan
Pendekatan dakwah yang dilakukan IDEAL dikenal dengan istilah 3G
(Gatuk, Guluk, dan Guyup). Pertama, pendekatan dakwah gatuk (terkait)
yang merupakan dakwah dengan cara menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang
memiliki kepedulian terhadap mucikari dan wanita harapan. Kedua,
pendekatan guluk (memikul) yakni dakwah dengan bersinerginya antara pendakwah
di lapangan, organisasi dakwah serta pemerintah. Ketiga, guyup (aman dan
tentram) yang berarti ada perasaan nyaman dan tentram pada diri objek dakwah
(mad’u) dengan melakukan pendekatan persuasif sehingga mereka tidak merasa
terganggu dengan adanya pendakwah yang berada di tengah lingkungan mereka.
Dalam konteks pasca penutupan jika dibagi,
terdapat tiga sasaran dakwah. Pertama adalah mucikari, orang yang selama
ini mengelola bisnis prostitusi di wisma. Kedua, pekerja seks komersial.
Ketiga, masyarakat terdampak. Nah masyarakat terdampak ini adalah orang
– orang yang tinggal di sekitar lokalisasi. Sepeti misalnya, tukang parkir,
pedagang, tukang becak, supir taksi, buruh cuci, penjual makanan dan minuman,
pelayan di wisma, hansip hingga ulo perak (Calo yang berjaga di
pelabuhan perak untuk kemudian mengarahkan turis atau wisatawan yang datang ke
Dolly) atau calo prostitusi dan papasang-mamasang (orang yang
menjadi orang kepercayaan mucikari). Merekalah yang dulunya
menggantungkan hidup pada bisnis prostitusi.
Sedangkan menurut Bapak Gatot Subiantoro,
sasaran dakwah kali ini adalah eks PSK dan mucikari yang masih tinggal di
Surabaya dan masyarakat terdampak yang terbagi dalam ring 1, ring 2, dan ring
3. Sedangkan yang dimaksud ring 1 adalah mereka yang tinggal atau memiliki
usaha satu gang di belakang gang Dolly. Ring 2 adalah mereka yang tinggal atau
memiliki usaha dua gang di sekitar gang Dolly. Ring 2 ini kebanyakan diisi oleh
penjual, seperti penjual makanan, minuman, sandal, kaos dan lain sebagainya. Sedangkan
ring 3 adalah mereka yang tinggal atau memiliki usaha di tiga gang di sekitar
Dolly yang dahulunya adalah kawasan parkiran.
Walaupun sudah ada program pemulangan eks pekerja seks
komersial dan mucikari, namun tidak semua dari mereka pulang ke kampung halaman
masing- masing. Sebagian kecil ada yang tetap tinggal di Surabaya karena sudah
teranjur menjalankan usaha lain di sini. Walau begitu mereka sudah berhenti
dari praktik kerja prostitusi. Mereka yang masih tetap tinggal inilah yang
kemudian ikut dilibatkan dalam program pemberdayaan oleh IDEAL.
Dalam rangka mengantisipasi tindak prostitusi terselubung, IDEAL
menjalankan program pengawasan. Pengawasan itu yang melakukan adalah
masyarakat. Masyarakat itu melibatkan toga (tokoh agama) – tomas (tokoh
masyarakat). Selain itu juga melibatkan korlap (koordinator lapangan) dan TKSK
(tenaga kesejahteraan sosial kecamatan) yang tersebar di semua kecamatan di
Jawa Timur. Pihak-pihak tadi sudah memiliki tugasnya masing-masing. Sebagai
contoh korlap – korlap di setiap eks lokalisasi yang bertugas memantau kondisi
di eks lokalisasi. Jika nantinya ditemukan tindak prostitusi terselubung,
korlap-korlap ini harus segera melaporkan temuan kepada ketua.
Selanjutnya ketua akan menghubungi Polda sehingga bisa langsung
dilakukan penindakan di lapangan. Korlap-korlap ini juga tersebar di seluruh
Jawa Timur sehingga memudahkan dalam mengontrol kondisi di lapangan. Tidak
hanya itu, IDIAL juga bekerjasama dengan Polda Pangdam (Panglima Kodam V Brawijaya).
Pengawasan dari pihak aparat juga dilakukan dalam rangka penindakan jika
ditemukan pelanggaran di lapangan. Aparat itu sendiri terbagi dalam dua bagian.
Pertama adalah Satpol PP. Satpol PP bertugas melakukan penindakan jika
ditemukan pelanggaran Perda. Sebaliknya jika pelanggarannya adalah pada undang
– undang maka polisi yang akan menindak.
Program pengawasan ini dilakukan setiap hari. Artinya para pengawas
yang ditugaskan senantiasa memantau kondisi di lapangan dan segera melaporkan
ika diketahui temuan tindak prostitusi terselubung. Sebab pihak-pihak yang
ditunjuk sebagai pengawas pun senantiasa stand by di lapangan. Hal ini
juga diketahui oleh para eks pekerja seks komersial dan mucikari. Sebab saat
mereka diserahkan kembali ke kampung halaman masing-masing, pihak IDEAL telah
melakukan proses komunikasi kepada kepala desa yang menerima mereka dan
menjelaskan amanah pengawasan di lapangan. Harapannya dengan begitu mereka
tidak berani melakukan praktik prostitusi terselubung. IDEAL juga menggunakan
pendekatan melalui kepala desa, sebab tidak semua keluarga mereka mau menerima
mereka kembali. Dari sanalah kepala desa melakukan pendekatan agar mereka bisa
diterima kembali dengan baik
***
Pada hari Sabtu, 13 April 2019 mahasiswa semester 2 Komunikasi
Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya
mengadakan kuliah lapangan ke kawasan lokalisasi Dolly untuk memenuhi tugas
laporan mata kuliah Ilmu Dakwah. Kuliah lapangan ini didampingi oleh Prof. Dr.
Moh. Ali Aziz selaku dosen pengampu serta dua asisten dosen yakni Ibu Ati’
Nursyafa’ah dan Ibu Baiti. Kuliah ini dimulai pada pukul 08.00 WIB di Masjid
At-Taubah yang terletak di kawasan tersebut.
![]() |
| Dok. istimewa, mahasiswa KPI yang tengah mengikuti kuliah lapangan |
Pada kuliah lapangan kali ini pembicaranya langsung dari tokoh berpengaruh dalam dakwah di Dolly yakni Dr. H. A. Sunarto AS, MEI, KH. Khoiron Syuaib, H. Sunarto Sholahudin, H. Gatot Subiantoro, dan Ngadimin Wahab (Ustadz Petruk).
![]() |
| Prof. Ali Aziz foto bersama dengan seluruh pembicara |
Kuliah dimulai dengan sambutan dari takmir masjid yakni Bapak Ngadimin Wahab atau yang sering dikenal dengan Ustadz Petruk. Ia menyampaikan tentang awal mula berdirinya masjid At-Taubah masjid bersejarah di Dolly. Pada 1987 masjid itu merupakan musholla bernama Al-Huda dan pada tanggal 17 Pebruari 1989 khutbah pertama dilakukan di masjid At-Taubah.
Setelah sambutan dari Ustadz Petruk selanjutnya adalah sambutan dari dosen pengampu yakni Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. setelah memberikan sambutan beliau memberikan cinderamata kepada pembicara berupa buku.
![]() |
| Prof. Ali Aziz memberikan buku kepada Ustadz Petruk selaku takmir masjid At-Taubah |
Selanjutnya disambung oleh pembicara yakni H. Sunarto Sholahudin yang berbicara mengenai pengalamannya hingga bisa sukses seperti sekarang. Pada saat beliau menerangkan tentang pengalaman hidupnya dipenuhi dengan tangis haru sehingga membuat para mahasiswa pun turut merasakan atmosfer keharuan.
![]() |
| H. Sunarto Sholahuudin saat memberikan materi kuliah lapangan |
Selain itu, ada hal menarik ketika H. Sunarto memberikan materinya. Saat para mahasiswa melontarkan pertanyaan tak segan-segan beliau memberikan uang 100-300 ribu sebagai bentuk apresiasi untuk para penanya sehingga membuat para mahasiswa semakin antusias.
![]() |
| Terlihat seorang penanya yang diberi uang |
Pembicara berikutnya yakni Dr. H. A. Sunarto AS, MEI, beliau menjelaskan mengenai bagaimana usaha beliau berdakwah di kawasan Dolly. Perjalanan dakwah beliau yang dimulai dari berdakwah secara individual hingga dakwah kelembagaan. Dakwah yang dilakukan hingga penutupan Dolly kurang lebih selama 32 tahun lamanya.
![]() |
| Dr. H. A. Sunarto saat menerima cinderamata |
Kemudian pembicara selanjutnya yakni KH. Khoiron Syuaib yang juga menerangkan ada empat unsur penting dalam area lokalisasi yaitu PSK, mucikari, tokoh berpengaruh seperti RT, RW (internal) dan preman (eksternal), dan masyarakat yang tinggal di area lokalisasi. Pada saat menjelaskan materinya ada kalimat menggelitik yang dilontarkan oleh beliau, singkatan dari germo itu: Seneng mangan seger, tapi nyambut gawe emoh (Suka memakan yang segar, tapi bekerja tak mau).
![]() |
| KH. Khoirun Syuaib saat menerima cinderamata |
Pembicara yang terakhir yakni H. Gatot Subiantoro yang menjelaskan bagaimana perjalanan hijrahnya dari preman yang gemar mabuk-mabukan menjadi seseorang yang turut berdakwah di kawasan Dolly bahkan dapat menjadi Humas IDEAL. Ada sebuah kata-kata yang diutarakan oleh beliau untuk mengingatkan para mahasiswa yakni “Kekayaan tidak ada batasnya, kemiskinan tidak ada batasnya, tapi umur ada batasnya.” Dalam kata-kata tersebut menyiratkan bahwa kita harus memanfaatkan usia yang kita miliki dengan melakukan hal yang positif dan bermanfaat untuk banyak orang.
![]() |
| H. Gatot Subiantoro saat memberi materi kuliah lapangan |
Setelah mengikuti kuliah lapangan ini penulis mengetahui sungguh luar biasa perjalanan beliau-beliau ini dalam mendakwahkan Islam di bumi Dolly yang merupakan tempat lokalisasi yang seolah jauh dan tak tersentuh oleh dakwah Islam. Namun, dengan kegigihan dan kerja keras mereka wajah Dolly tak lagi dicap sebagai tempat lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara.
![]() | |
| Dok. istimewa, banner yang dipasang di depan masjid At-Taubah |
Pesan kesan penulis saat mengikuti kuliah lapangan di Dolly. Pertama, yang pasti saya senang karena ini merupakan pengalaman yang pertama bagi saya pergi ke Dolly setelah lokalisasi itu resmi ditutup. Menurut saya kawasan ini layaknya perkampungan biasa seperti di kawasan lain di Surabaya setelah penutupan. Kedua, setiap pemateri menjelaskan dengan jelas dan lugas bagaimana perjalanan dakwah mereka di Dolly sehingga hal tersebut membuat saya semakin tertarik dengan kawasan ini. Ketiga, ketika sudah mengetahui bagaimana perjalanan dakwah di Dolly yang terbilang tidak mudah dan begitu lama pastilah dibutuhkan kesabaran yang tak terkira, penulis salut akan usaha para da’i menegakkan nilai keislaman di Dolly yang mungkin banyak mendapat pertentangan. Namun, lambat laun usaha mereka terbayarkan dengan penutupan Dolly tersebut.
Keempat, dalam kuliah
lapangan ini saya juga mendapatkan pelajaran baru tentang hidup karena
kesuksesan itu ada karena usaha yang tak terkira bukan sebatas berpangku tangan
menunggu hujan uang datang. Kesuksesan itu harus kita jemput seperti perjalanan
hidup H. Sunarto Sholahudin atas kesuksesannya. Beliau mendapatkan kesuksesan
itu bukan hal yang mudah bahkan dengan usaha dan tangis. Itulah yang mengetuk
hati penulis bahwa mencapai kesuksesan harus dibarengi dengan usaha yang
maksimal.
Kelima, saya juga
salut dengan usaha yang dilakukan pemerintah Surabaya pasca penutupan Dolly.
Pasca penutupan tersebut tidak serta merta para WTS, mucikari itu
diberhentikan, melainkan mereka diberi bekal keterampilan untuk memulai usaha.
Bahkan salah satu wisma disana dijadikan sentra pembuatan sepatu dan sandal dan
puing-puing bekas lokalisasi sudah tak lagi terlihat ketika penulis datang
kesana.
Nama : Fauziyah Ikrimah
NIM : B91218107
Kelas : A2/KPI
***
Semoga informasi yang penulis paparkan dapat bermanfaat bagi pembaca semua. Terima kasih telah mengunjungi blog saya.














Komentar
Posting Komentar