Lentera Sigra #1


(Roti Selai Coklat)

     Hembusan angin malam menerbangkan anak rambutku sekaligus menembus pori-pori kulitku. Ku rasakan dingin menyerbu tubuhku, ku peluk erat ia dengan kedua tanganku sendiri melingkupinya supaya tak terasa lagi rasa dingin yang menyeruak. Rintik gerimis masih setia menemaniku di halte ini, ku terjebak disini sejak selesai Salat Maghrib di masjid kampusku sore tadi. Hingga akan menginjak waktu Isya’ rintik itu masih sama bahkan semakin menjatuhkan diri bersama kawan-kawannya yang lain. Ponselku sudah mati semenjak aku di masjid tadi, sehingga aku tidak bisa mengabari orang rumah jika aku masih terjebak bersama genangan air yang semakin meninggi.

    Keadaan malam ini cukup lengang tidak terlalu banyak kendaraan berlalu lalang, namun hal itu semakin membuatku khawatir jika aku tidak akan mendapatkan bus malam ini. Hari ini aku memang pulang terlambat karena ada rapat pengurus himpunan mahasiswa prodiku, aku baru saja dilantik menjadi salah satu anggotanya jadi otomatis aku harus ikut rapat rutinannya, dan berakhirlah disini sendirian menunggu bus yang tak kunjung datang atau memang tidak akan datang.

    Bukannya aku tidak mau menunggu lebih lama lagi, tapi perutku sudah tak kuasa lagi menunggu. Sedari tadi ia mengerang rewel meminta diisi, setelah makan siang tadi aku belum lagi mengisi perutku hingga saat ini pantas saja jika cacing-cacing di dalam lambungku pada berontak.

“Busnya kok lama sih, udah laper nih,” gerutuku pelan. 

    Aku menengok ke kanan mencoba mencari tanda-tanda datangnya bus. Namun, nihil tak ada tanda-tanda akan kedatangannya. Aku membatin, menunggu bus saja sudah seperti menunggu jodoh yang tak kunjung datang bahkan tak tahu kapan datangnya. Hembusan napas keluar begitu saja dari mulutku. Lelah rasanya, sudah kuliah dari pagi ditambah dengan rapat yang menghabiskan waktu hingga petang dan sekarang terjebak dengan guyuran tangis dari langit, apalagi ditemani dengan suara merdu dari lolongan cacing-cacing di perut, lengkap sudah malamku kali ini.

     Sembari meratapi nasib yang tak kunjung mendapat bus, aku pun mengalihkan arah pandangku ke seorang lelaki yang tengah berlari menerobos hujan, ia melewati garis hitam putih yang ada di jalan dengan cepat. Ia mengenakan jaket hitam dengan tas kecil di gendongannya, tangannya menutupi kepala agar tak terkena hujan. Namun, menurutku itu percuma saja jika pada akhirnya hujan akan dapat membasahinya juga. Kemudian lelaki itu mengambil tempat tak jauh dariku duduk, aku sedikit meliriknya barangkali aku mengenalnya. Namun, sekilas wajahnya asing bagiku, ya mungkin memang aku tidak kenal.

      Ku kembalikan fokusku ke jalan raya yang tergenang air bekas hujan. Tak ada  lagi rintik yang deras, melainkan hanya setitik air yang jatuh. Ku tengok jam yang melingkar di pergelangan tanganku pukul sudah menunjukkan delapan malam. Tanpa ku sadari sudah dua jam aku menunggu kedatangan bus, namun sama sekali tak ku dapatkan apapun.

“Sebentar lagi bus nya datang kok.”

    Sontak aku pun langsung menoleh ketika mendengar sebaris kata dari mulut lelaki yang tak kukenal itu. Semacam lelaki itu mengerti jika aku sudah lama menantikan bus datang, lelaki itu mengatakan sebaris kata yang mungkin sedikit menenangkanku, tapi jujur saja itu tidak cukup bagiku yang kubutuhkan sekarang busnya ada atau tidak.

“Oh iya,” jawabku lirih.

     Aku melirik sekilas ke arah lelaki itu, ia begitu santainya menyantap roti berselai coklat yang ada di tangannya. Mataku pun langsung berbinar ketika melihat roti selai coklat kesukaanku itu. Tanpa sadar aku pun menegak ludah pelan ketika melihat lelaki itu menggigit sedikit demi sedikit rotinya. 

Lelaki itu menatapku sebentar, “Kalau mau, saya punya roti banyak di dalam tas, kamu mau?” tawarnya.

    Namun, langsung ku alihkan tatapanku lurus ke depan, serasa sudah ketahuan jika aku sedang memperhatikannya ah ralat bukan memperhatikannya, tapi lebih kepada rotinya.

“Enggak, makasih,” tolakku halus.

    Munafik memang, padahal sedari tadi cacing-cacing di perutku sudah menggonggong menyuruhku untuk menerima roti selai itu, tapi ya malu lah masa iya aku tiba-tiba mengambil barang milik orang lain begitu saja, ya walaupun orang itu sudah mengizinkannya, tapi ya tetap saja.

“Oh ya sudah.”

     Aku merutuki kebodohanku sendiri, rasanya aku sudah menzalimi diriku sendiri. Jujur, aku sangat lapar, tapi ah sudahlah rumit. Yang kuinginkan saat ini hanyalah bus segera datang agar aku dapat segera menikmati masakan ibu di rumah. Ayolah, aku tidak tahan.

‘Kriuuk….’

     Hancur sudah pertahananku, ku tundukkan kepalaku dalam-dalam. Dengan tidak tahu diri pperutku benar-benar kurang ajar sembarangan mengeluarkan suara. Astaga malu sekali. Aku tidak ingin melihat bagaimana ekspresi lelaki tadi pasti ia tengah menertawakanku dalam diam saat ini. Namun, aku terkejut ketika sebuah bungkus roti selai coklat muncul di depanku. Aku pun menoleh, lelaki itu mengulurkan tangannya padaku dengan sebuah bungkus roti di genggamannya.

“Kalau memang lapar, jangan ditahan,” ujarnya seraya tersenyum kecil.

     Rasanya malu sekali diriku, tapi jika aku menolak pemberian lelaki itu sama saja aku membohongi diriku sendiri, ya untuk saat ini ku hilangkan rasa maluku sejenak yang penting perutku terisi. Perlahan aku pun menerima roti itu dari tangannya, 

“Terima kasih,” ucapku pelan.

“Sama-sama.”

      Keadaan pun kembali hening, kami berdua sibuk menikmati roti masing-masing. Mungkin saking laparnya rotiku habis dalam sekejab, ya jangan salahkan aku salahkan cacing-cacing di perutku yang dengan brutal memperebutkan roti itu.

“Laper banget ya? Kalo masih kurang saya masih ada lagi.”

       Aku pun menggeleng cepat ketika lelaki itu hendak mengeluarkan satu bungkus roti lagi, sudah merepotkan sekali diriku ini.

“Eng-enggak usah aku udah kenyang kok,” jawabku.

       Ia pun mengangguk dan tak jadi mengambil roti selai dari dalam tasnya.

“Sudah lama ya nunggu busnya,” tanyanya mencoba mengajak bicara padaku.

Aku mengangguk pelan, “Ya dari habis Maghrib tadi.”

“Kamu juga sedang menunggu bus?” tanyaku.

        Belum sempat lelaki itu menjawab bus yang kutunggu-tunggu pun datang. Astaga senang sekali hatiku, syukurlah setidaknya masih ada bus yang datang jika tidak entahlah bagaimana aku bisa kembali pulang. Aku pun segera merapihkan barang-barangku dan mendekati bus itu. Kulirik sebentar ke arah lelaki tadi. Aku mengernyit kenapa lelaki itu tidak ikut bersiap-siap.

“Kamu tidak ikut naik?”

       Ia menggeleng. Aku pun mengangguk paham, mungkin saja rumah lelaki itu di dekat sini, tapi ya kenapa tidak dari tadi ia pulangnya. Ah sudahlah bukan urusanku juga.

“Kalau begitu, aku duluan ya,” ujarku.

      Lelaki itu mengangguk dan membiarkan aku untuk segera menaiki bus yang sudah menanti. Ketika sudah akan naik, lelaki itu mencekal lenganku. Aku pun sontak menghentikan langkahku.

“Ada apa?”

       Lelaki itu mengeluarkan sebungkus roti selai coklat dan mengulurkannya padaku.

“Ambil  saja, mungkin itu bisa menemanimu di perjalanan pulang.”

    Aku pun tersenyum kecil dan menerima pemberian lelaki itu, “Terima kasih—“ ucapku menggantung seraya menatap lelaki itu mencoba bertanya siapa namanya melalui tatapan.

“Sigra, panggil saja Sig,” jawabnya kemudian.

Aku pun mengangguk, “Terima kasih, Sig. Aku duluan ya.”

      Ketika kakiku sudah naik ke atas bus, lelaki itu kembali menyuarakan pertanyaan padaku.

“Siapa namamu?”

“Lentera, panggil saja Era,” teriakku.

      Pintu bus pun tertutup dan meninggalkan halte yang tadi aku tempati. Aku memilih duduk di sudut paling belakang dekat jendela. Ya setidaknya sekarang aku sudah bisa bernapas lega karena dapat kembali pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batu, Debu, dan Hujan

Dakwah Penuh Sinergi untuk Masyarakat Dolly